FARMAKOLOGI
Farmakologi (pharmacology) berasal dari bahasa Yunani, yaitu pharmacon adalah obat dan logos adalah
ilmu. Obat adalah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup
pada tingkat molekular. Farmakologi sendiri dapat didefinisikan sebagai
ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi obat dengan konstituen
(unsur pokok) tubuh untuk menghasilkan efek terapi (therapeutic).
Banyak definisi tentang farmakologi yang dirumuskan oleh
para ahli, antara lain: Farmakologi dapat dirumuskan sebagai kajian
terhadap bahan-bahan yang berinteraksi dengan sistem kehidupan melalui
proses kimia, khususnya melalui pengikatan molekul-molekul regulator
yang mengaktifkan atau menghambat proses-proses tubuh yang normal
(Betran G. Katzung). Ilmu yang mempelajari mengenai obat, mencakup
sejarah, sumber, sifat kimia dan fisik, komponen, efek fisiologi dan
biokimia, mekanisme kerja, absorpsi, distribusi, biotransformasi,
ekskresi dan penggunaan obat (Farmakologi dan Terapi UI). Dengan
demikian, farmakologi merupakan ilmu pengetahuan yang sangat luas
cakupannya. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, beberapa bagian dari
farmakologi ini telah berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri dalam
ruang lingkup yang lebih sempit, tetapi tidak terlepas sama sekali dari
farmakologi, misalnya farmakologi klinik, farmasi, toksikologi, dan
lain-lain.
Umumnya,
para ahli farmakologi menggabungkan antara farmakologi kedokteran atau
farmakologi medis (ilmu yang berkaitan dengan diagnosis, pencegahan, dan
pengobatan penyakit) dengan toksikologi (ilmu yang mempelajari
efek-efek yang tidak diinginkan dari suatu obat dan zat kimia lain).
Klasifikasi Farmakologi:
1. Farmakognosi
Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari sifat-sifat tumbuhan dan bahan lain yang merupakan sumber obat.
Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari sifat-sifat tumbuhan dan bahan lain yang merupakan sumber obat.
2. Farmakokinetik
Cabang Ilmu farmakologi yang mempelajari perjalanan obat dalam tubuh
Cabang Ilmu farmakologi yang mempelajari perjalanan obat dalam tubuh
3. Farmakodinamik
Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari tentang efek obat terhadap fisiologi dan biokimia dari sel jaringan/organ tubuh beserta mekanisme kerjanya(fisiologis)
Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari tentang efek obat terhadap fisiologi dan biokimia dari sel jaringan/organ tubuh beserta mekanisme kerjanya(fisiologis)
4. Farmakologiklinik
Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari efek obat pada manusia(morfologi)
Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari efek obat pada manusia(morfologi)
5. Farmakoterapi
Cabang ilmu farmakologi yang berhubungan dengan penggunaan obat dalam pencegahan dan pengobatan penyakit
6. Toksikologi
Ilmu yang mempelajari keracunan zat kimia. Zat kimia yang dimaksud tersebut termasuk obat atau zat yg digunakan dalam rumah tangga, industri, maupun lingkungan hidup lain (contoh: insektisida, pestisida, zat pengawet, dll)
Ilmu yang mempelajari keracunan zat kimia. Zat kimia yang dimaksud tersebut termasuk obat atau zat yg digunakan dalam rumah tangga, industri, maupun lingkungan hidup lain (contoh: insektisida, pestisida, zat pengawet, dll)
7. Farmakoekonomi
Cabang ilmu yang khusus mempelajari hubungan antara obat dan nilai ekonomis yg dapat dihasilkan oleh obat tersebut
Cabang ilmu yang khusus mempelajari hubungan antara obat dan nilai ekonomis yg dapat dihasilkan oleh obat tersebut
Hubungan
antara dosis suatu obat yang diberikan pada seorang pasien dan
penggunaan obat dalam pengobatan penyakit digambarkan dengan dua bidang
khusus farmakologi yaitu: farmakokinetik dan farmakodinamik.
Farmakodinamik mempelajari apa pengaruh obat pada tubuh. Farmakodinamik
berkaitan dengan efek-efek obat, bagaimana mekanisme kerjanya dan
organ-organ apa yang dipengaruhi. Farmakokinetik mempelajari proses apa
yang dialami obat dalam tubuh. Farmakokinetik berkaitan dengan absorpsi,
distribusi, biotransformasi, dan ekskresi obat-obat. Faktor-faktor ini
dirangkaikan dengan dosis, penentuan konsentrasi suatu obat pada tempat
kerjanya, dan penentuan intensitas efek obat sebagai fungsi dari waktu
paruh. Banyak prinsip biokimia, enzimologi, fisik, dan kimia yang
menentukan transfer aktif dan pasif, serta distribusi zat melewati
membran-membran biologi yang dapat dipakai untuk dapat mengerti aspek
penting dalam farmakoogi. Farmakodinamik berkaitan dengan efek-efek
biokimia, fisiologi, dan mekanisme kerja obat-obatan. Farmakodinamik dan
farmakokinetik akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Farmakodinamik
Farmakodinamik
adalah subdisiplin farmakologi yang mempelajari efek biokimiawi dan
fisiologi obat, serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari
farmakodinamik adalah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui
interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta
spektrum efek dan respons yang terjadi.
a. Mekanisme Kerja Obat
kebanyakan
obat menimbulkan efek melalui interaksi dengan reseptornya pada sel
organism. Interaksi obat dengan reseptornya dapat menimbulkan perubahan
dan biokimiawi yang merupakan respon khas dari obat tersebut. Obat yang
efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis, obat yang tidak
mempunyai aktifitas intrinsik sehingga menimbulkan efek dengan
menghambat kerja suatu agonis disebut antagonis.
b. Reseptor Obat
Protein
merupakan reseptor obat yang paling penting. Asam nukleat juga dapat
merupakan reseptor obat yang penting, misalnya untuk sitotastik. Ikatan
obat-reseptor dapat berupa ikatan ion, hydrogen, hidrofobik,
vanderwalls, atau kovalen. Perubahan kecil dalam molekul obat, misalnya
perubahan stereoisomer dapat menimbulkan perubahan besar dalam sifat
farmakologinya.
c. Transmisi Sinyal Biologis
Penghantaran
sinyal biologis adalah proses yang menyebabkan suatu substansi
ekstraseluler yang menimbulkan respon seluler fisiologis yang spesifik.
Reseptor yang terdapat di permukaan sel terdiri atas reseptor dalam
bentuk enzim. Reseptor tidak hanya berfungsi dalam pengaturan fisiologis
dan biokimia, tetapi juga diatur atau dipengaruhi oleh mekanisme
homeostatic lain. Bila suatu sel di rangsang oleh agonisnya secara
terus-menerus maka akan terjadi desentisasi yang menyebabkan efek
perangsangan.
d. Interaksi Obat-Reseptor
Ikatan
antara obat dengan resptor biasanya terdiri dari berbagai ikatan lemah
(ikatan ion, hydrogen, hidrofilik), mirip ikatan antara subtract dengan
enzim dan jarang terjadi ikatan kovalen.
2. Farmakokinetik
Farmakokinetik
mencakup 4 proses, yaitu proses absorpsi distribusi metabolisme dan
ekskresi. Metabolisme atau biotransformasi dan ekskresi bentuk utuh atau
bentuk aktif merupakan proses eliminasi obat
a. Absorpsi
Absorpsi
merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah.
Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran
cerna (mulut sampai rektum), kulit, paru, otot, dan lain-lain. Yang
terpenting adalah cara pemberian obat per oral, dengan cara ini tempat
absorpsi utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorpsi yang
sangat luas, yakni 200 meter persegi (panjang 280 cm, diameter 4 cm,
disertai dengan vili dan mikrovili ). Obat yang diserap
oleh usus halus ditransport ke hepar sebelum beredar ke seluruh tubuh.
Hepar memetabolisme banyak obat sebelum masuk ke sirkulasi. Hal ini yang
disebut dengan efek first-pass. Metabolisme hepar dapat menyebabkan
obat menjadi inaktif sehingga menurunkan jumlah obat yang sampai ke
sirkulasi sistemik, jadi dosis obat yang diberikan harus banyak.
b. Distribusi
Distribusi
obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan
dan cairan tubuh, meliputi: aliran darah, permiabilitas kapiler, dan
ikatan kovalen.
c. Metabolisme
Metabolisme
atau biotransformasi obat adalah proses tubuh merubah komposisi obat
sehingga menjadi lebih larut air untuk dapat dibuang keluar tubuh. Obat
dapat dimetabolisme melalui beberapa cara yaitu: metabolisme inaktif
kemudian diekskresikan dan metabolisme aktif yang memiliki kerja
farmakologi tersendiri dan dimetabolisme lanjutan
d. Ekskresi
Ekskresi
obat artinya eliminasi obat dari tubuh. Sebagian besar obat dibuang
dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin. Obat jugadapat dibuang melalui
paru-paru, eksokrin (keringat, ludah, payudara), kulit dan
taraktusintestinal.
e. Hal-hal lain terkait Farmakokinetik, meliputi:
Waktu Paruh
Waktu
paruh adalah waktu yang dibutuhkan sehingga setengah dari obat dibuang
dari tubuh. Faktor yang mempengaruhi waktu paruh adalah absorpsi,
metabolism dan ekskresi. Waktu paruh penting diketahui untuk menetapkan berapa sering obat harus diberikan.
Onset, puncak, and durasi
Onset
adalah waktu dari saat obat diberikan hingga obat terasa kerjanya.
Sangat tergantung rute pemberian dan farmakokinetik obat. Puncak adalah
setelah tubuh menyerap semakin banyak obat maka konsentrasinya di dalam
tubuh semakin meningkat. Durasi adalah kerja lama obat menghasilkan suatu efek terapi.
2.2 Sejarah Farmakologi
Sejarah
farmakologi dibagi menjadi 2 periode yaitu periode kuno dan periode
modern. Periode kuno (sebelum tahun 1700) ditandai dengan observasi
empirik penggunaan obat dapat dilihat di Materia Medika. Catatan tertua
dijumpai pada pengobatan Cina dan Mesir. Claudius Galen (129–200 A.D.),
orang pertama yg mengenalkan bahwa teori dan pengalaman empirik
berkontribusi seimbang dalam penggunaan obat. Theophrastus
von Hohenheim (1493–1541 A.D.), atau Paracelsus: All things are poison,
nothing is without poison; the dose alone causes a thing not to be
poison.” Johann Jakob Wepfer (1620–1695) the first to verify by animal
experimentation assertions about pharmacological or toxicological
actions.
Periode
modern dimulai Pada abad 18-19, mulai dilakukan penelitian
eksperimental tentang perkembangan obat, tempat dan cara kerja obat,
pada tingkat organ dan jaringan. Rudolf Buchheim (1820–1879) mendirikan
the first institute of Pharmacology di the University of Dorpat (Tartu,
Estonia) in 1847 pharmacology as an independent scientific discipline.
Oswald Schmiedeberg (1838–1921), bersama seorang internist, Bernhard
Naunyn (1839–1925), menerbitkan jurnal farmakologi pertama. John J. Abel
(1857–1938) “The Father of American Pharmacology”, was among the first
Americans to train in Schmiedeberg‘s laboratory and was founder of the
Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics (published from
1909 until the present).
Regulasi
obat bertujuan menjamin hanya obat yang efektif dan aman, yang tersedia
di pasaran. Tahun 1937 lebih dari 100 orang meninggal karena gagal
ginjal akibat eliksir sulfanilamid yang dilarutkan dalam etilenglikol.
Kejadian ini memicu diwajibkannya melakukan uji toksisitas praklinis
untuk pertama kali. Selain itu industri diwajibkan melaporkan data
klinis tentang keamanan obat sebelum dipasarkan. Tahun 1950-an,
ditemukan kloramfenikol dapat menyebabkan anemia aplastis. Tahun 1952
pertama kali diterbitkan buku tentang efek samping obat. Tahun 1960
dimulai program MESO (Monitoring Efek Samping Obat). Tahun 1961, bencana
thalidomid, hipnotik lemah tanpa efek samping dibandingkan golongannya,
namun ternyata menyebabkan cacat janin. Studi epidemiologi di Utero
memastikan penyebabnya adalah thalidomid, sehingga dinyatakan thalidomid
ditarik dari peredaran karena bersifat teratogen.
Tahun
1962, diperketat harus dilakukannya uji toksikologi sebelum diuji pada
manusia. Setelah itu (tahun 1970-an hingga 1990an) mulai banyak
dilaporkan kasus efek samping obat yang sudah lama beredar. Tahun
1970-an Klioquinol dilaporkan menyebabkan neuropati subakut mielo-optik.
Efek samping ini baru diketahui setelah 40 tahun digunakan.
Dietilstilbestrol diketahui menyebabkan adenocarcinoma serviks (setelah
20 tahun digunakan secara luas). Selain itu masih banyak lagi penemuan
ESO (Efek Samping Obat) yang menyebabkan pencabutan ijin edar atau
pembatasan pemakaian. Berbagai kejadian ESO yang dilaporkan memicu
pencarian metode baru untuk studi ESO pada sejumlah besar pasien. Hal
ini memicu pergeseran dari studi efek samping ke studi kejadian ESO.
Tahun 1990an dimulai penggunaan Farmakoepidemiologi untuk mempelajari
efek obat yang menguntungkan, aplikasi ekonomi kesehatan untuk studi
efek obat, studi kualitas hidup, dan lain-lain. Studi
Farmakoepidemiologi semakin bekembang, dan pada tahun 1996
dikeluarkanlah Guidelines for Good Epidemiology Practices for Drug,
Device, and Vaccine Research di USA

.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar