^_^(JANGAN LUPA FOLLOW IG: yogiseptian_11)*_* { SMK FARMASI SURABAYA }: 2017

Sabtu, 18 Februari 2017

SEJARAH SMK FARMASI DI INDONESIA

1.pngSekolah Menengah Farmasi (SMF) adalah sekolah menengah kejuruan di indoesia untuk mendidik asisten apoteker. Sekolah ini sebelumnya bernama Sekolah Asisten Apoteker (SAA). Pada awalnya, pendidikan kesehatan ditujukan untuk mendidik dan melatih tenaga – tenaga pribumi agar dapat membantu memberikan pelayanan kesehatan masyarakat yang dibutuhkan pada masa penjajahan. Setelah masa kemerdekaan perkembangan bidang farmasi di Indonesia, menghendaki adanya tenaga teknis kefarmasian formal jenjang menengah yang mampu bekerja dalam proses produksi, distribusi, administrasi maupun dalam penyuluhan kepada masyarakat di bidang farmasi. Oleh karena itu, dibentuklah pendidikan tenaga Asisten Apoteker bernama Sekolah Asisten Apoteker. Tahun 1946 didirikan Sekolah Asisten Apoteker yang pertama yang dikelola oleh tenaga bangsa Indonesia di Yogyakarta.

Sejalan dengan perkembangan bidang kesehatan, khususnya bidang farmasi, berkembang pula lah sekolah ini, baik kuantitas maupun kualitasnya. Akhirnya pada tahun 1960 dibakukanlah pedoman penyelenggaraan pendidikan tenaga Asisten Apoteker dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 62983/Pend, tanggal 28 Juli 1960 yang kemudian diperbaiki dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan nomor 106/Pen tanggal 1 Juni 1961.

Sejak tahun 1965, Sekolah Asisten Apoteker berganti nomenklatur menjadi Sekolah Menengah Farmasi dan sampai tahun 1990-an tidak kurang tercatat lebih kurang 40 sekolah, yang dikelola oleh Departemen Kesehatan RI, Pemerintah Daerah, TNI/Polri dan oleh pihak swasta.

Perkembangan dan pertumbuhan masyarakat dewasa ini dan kecenderungan pelayanan kesehatan yang makin meningkat dan kompleks, memerlukan tenaga kesehatan yang memiliki sifat etis dan profesional. Hal tersebut sejalan dengan kebijakan pembangunan kesehatan bahwa hanya mereka yang mempunyai latar belakang pendidikan umum setingkat sekolah menengah tingkat atas yang dapat mengikuti pendidikan di bidang kesehatan dan Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010 menegaskan bahwa tenaga kesehatan profesional adalah tenaga kesehatan tingkat ahli madya atau tingkat sarjana.

Salah satu strategi yang diterapkan untuk memenuhi kedua tujuan tersebut adalah perubahan (konversi) institusi pendidikan tenaga kesehatan jenjang pendidikan menengah menjadi jenjang pendidikan tinggi. Sesuai dengan surat Keputusan Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan nomor HK.00.06.4.2054 tahun 1993 tentang Berlakunya Pedoman Konversi Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Jenjang Pendidikan Menengah menjadi Jenjang Pendidikan Tinggi maka 4 (empat) sekolah yang dikelola Departemen Kesehatan dikonversi menjadi institusi Diploma III. Hal tersebut diikuti juga oleh beberapa sekolah yang dikelola swasta. Selain dari konversi, institusi Diploma III juga didirikan. Saat ini masih terdapat 32 SMF yang dikelola TNI/Polri dan swasta.

Perkembangan kebijakan pendidikan Pemerintah c.q. Departemen Pendidikan Nasional yang mendorong pengembangan SMK, melalui pembentukan unit-unit SMK baru maupun penambahan siswa SMK. Salah satu SMK yang berkembang adalah SMK Bidang Kesehatan Program Keahlian Farmasi (SMKF). Selain berkembangnya unit-unit SMKF yang baru, SMF yang sudah ada sebelumnya juga didorong untuk konversi maupun mengubah nomenklatur menjadi SMK.

ALASAN KENAPA HARUS PILIH SMK

KEUNGGULAN SMK
Jika kita telusuri ada beberapa hal yang membuat SMK lebih unggul daripada SMA, yaitu:
Hasil gambar untuk smk bisa 1. Para siswa mendapat pelajaran adaptif maupun normatif seperti yang didapat bila sekolah di SMU.
2. Sekolah di SMK para siswa dibekali ketrampilan karena di berikan mata pelajaran produktif sesuai kompetensi yang dipilihnya, oleh karena itu siswa SMK bisa dikatakan setelah lulusan siap masuk di dunia kerja, selain tetap bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi
3. Di SMK sebelum lulus para siswa diberi kesempatan Praktek Kerja Lapangan atau PKL, disini mereka akan mengasah kemampuan mereka yang didapat dari sekolah. Umumnya para siswa akan dilepas didunia kerja rata-rata 2 sampai 3 bulan.
4. Pada Kelulusan pun Siswa di SMK diharuskan membuat sebuah karya atau disebut Tugas Akhir (TA) yang nantinya dijadikan penilaian sampai sejauh mana penguasaan keahlian setelah selama 3 tahun belajar.
Karena beberapa kelebihan SMK di atas Pemerintah merekomendasikan sekolah di SMK. Karena dengan ketrampilan yang sudah dimiliki bisa dijadikan usaha untuk menekan pengangguran bahkan bisa untuk menciptakan lapangan kerja.
Di Jerman, sejarah pendidikan kejuruan telah dimulai sejak abad ke 19. Sekolah jenis ini menekankan sistem pendidikan ganda dimana selain training kejuruan di sekolah, siswa juga diberi kesempatan untuk magang di perusahaan. Pada tahun 2001, sebanyak dua pertiga dari seluruh generasi muda berusia dibawah 22 tahun telah menjalani magang di perusahaan. Untuk mendukung perkembangan pendidikan ini, pada tahun 2004, pemerintah mengeluarkan peraturan yang menegaskan bahwa semua pemilik perusahaan, kecuali yang berskala kecil, wajib menerima siswa magang untuk bekerja di perusahaannya.

TENTANG SMK FARMASI SURABAYA

Tentang Kami !

http://www.smkfarmasisurabaya.sch.id/wp-content/uploads/2016/01/img003.jpg
SMK FARMASI SURABAYA berdiri sejak tahun 1971, dahulu dikenal sebagai Sekolah Asisten Apoteker (SAA). Dengan adanya perkembangan Kurikulum maka mulai tahun 1978 sebutan SAA berubah menjadi Sekolah Menengah Farmasi (SMF) dan berkembang menjadi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Sampai saat ini telah meluluskan 3624 Asisten Tenaga Kesehatan.

Visi dan Misi !

Visi : Menjadi SMK FARMASI Unggulan Pilihan Masyarakat.
Misi : Mendidik siswa Santun, Cakap, Terampil dan Mandiri

Yayasan !

Nama Lembaga:Yayasan Kepharmasian Surabaya
Alamat:Jl. Ketintang Madya 81 Surabaya
No. Tanggal Pelembagaan:
9 / 10 Oktober 1970
16 /12 Agustus 2003
25 / 24 Februari 2011
Notaris:Ny. Diah Anggraeni, SH,M.Hum.
Status Kepemilikan:Swasta
Tujuan Lembaga:Memajukan bidang kefarmasian
Nama Pimpinan Lembaga:Ir. Rooswandi Hidayat, M.Pd

IDENTITAS SMK FARMASI SURABAYA

Identitas

Nama Sekolah:SMK FARMASI SURABAYA
Status:Swasta
Alamat:Jl. Kapasari No. 3-5 Surabaya
 Telp / Fax:031 – 3710619
 Website / Email:www.smkfarmasisurabaya.sch.id


info@smkfarmasisurabaya.sch.id
smkfarmasi_surabaya@yahoo.co.id
Nama Kepala Sekolah:Hari Subagio, S.Pd
No. Statistik Sekolah:924056009109
NPSN:250552198
 No. dan Tgl. SK. Pendirian:
1784/V/SK/1971
Tanggal 16 Maret 1971
 Ijin Penyelenggaraan:
422/11511/436.6.4/2011
Diknas Kota Surabaya
 Akreditasi:
A (Badan Akreditasi Provinsi)
Nilai 94 Tahun 2010
ISO 9001 ; 2008 Tahun 2011

PRESTASI SISWA / SISWI SMK FARMASI SURABAYA

Prestasi Siswa Tahun Ajaran 2016-2017

NoKegiatan LombaTanggal LombaJenis KegiatanNama SiswaJuaraTingkat Kegiatan
1Paskibraka Kota Surabaya17 Agustus 2016PaskibDia Ayu RohmawatiTim PaskibrakaKota Surabaya
2Tim Osis dinas kepemudaan surabayadi Trawas Mjkt.18 s.d 21 sep 2016KepemudaanOSIS1, Kelompok terbaikNasional
3POPDA atletik kota Surabaya23 September 2016olahragaMycendra Arum Anggraeni, M. Sholeh Akbar, Rakta Wira
6 jarak 100m PI
8 jarak 1000m PA
11 jarak 100m PA
Kota
 4Mading Masy ASEAN Unv.Narotama27 Okt 2016SeniAizza Ilmia, Bernard Alif Vio, M.Rizaq S, Renata C.hadi, Wariz Ar RahmanJuara 2Nasional
 5Artikel/cerpen Surat kabar Surya10 Nopember 2016Seni/akademik (bahasa Indonesia)
Virda Aulia
Larasati Ismi
Dewi Lestari
Juara 1
Juara 2
Juara 3
Nasional
 6Daur Ulang Limbah Bio Compact (LKTI) Unesa23 okt s.d 6 nop 2016AkademikVia Qurrota Ayun, Berlianda Rhma Salsabilah, Vivi IndarwatiSemifinalisProvinsi
 7Perisai Diri Univ.Negeri Malang Cup III27 s.d 30 Okt 2016Olahraga (Bela diri)
Liani Apriatus

Dimas Aditya

Krisna Ramadhon Ariyanto

Sella Berliana F, Andhita Novianti, Lailly K

Fasza Rachmadini, Anis Thohiroh, Ajeng Indah PD

Sulistia Rahayu

Lailatul Nur

Dinda Ayu S
1 Tunggal IPSI
2 Teknik Senjata Putra Dewasa
2 berpasangan teknik senjata putra dewasa

3 Kerapian teknik beregu putri

2 beregu teknik asli remaja putri
3 Tanding IPSI kelas D putri remaja
3 tanding IPSI kelas bebas putri dewasa
3 Kerapian teknik berpasangan putri
Nasional
 8 Univ.Tujuh belas Agustus Cup Islamic Competition 12 s.d 13 nop.2016Seni (Agama)
Ahmad Mujaddid
Uswatun Nisa’
2 Dai
3 MTQ
Provinsi
 9 Airlangga Maritim Conference LKTI Unair Fak. Peikanan12 Nop 2016Penelitian (Akademik)
Dewi Lestari, Indah Mayangsari, Virda Aulia
Khoirunisa Maharani, Khofifah Tata Gunawan, Siti Mutmainah
1 LKTI


3 LKTI
Nasional
 10Kapten (Paskibraka) SMPN 12 Surabaya13 Nop 2016Paskib
Tiara Wahyu Putri
Sephia Putri Nabila
Aisiyah Nur Faradilla
Defsi Yahya Misardi
Arum Wulandari
Muhimmah Falashifah
Mega Putri Aulia P
Feby Kartika Sari
Alvina Dwi Sthalita Komara
Kaila Yulindari
Lingga Dinar Anggraeni
Wahidah Farzur Ridho
Cintya Mayangsari
Fina Aulia P
Sherly Novita
Wigathi Dwi Setya
3 Mula KreasiProvinsi
 11Sciencasation tech kuis fisika19 Nov 2016AkademikDewi Lestari, Anis Lailatul, Ifatul Abada, Vira AyuSemi finalisNasional
 12Tunas Hijau Eco School Surabaya3 Des 2016Seni (lingkungan)Christofer Setiawan, Hezkia Agustin, Audy Ardiansyah1 Jingle Eco SchoolKota
 13Kejurda Propinsi Jatim Anggar Banyuwang10 s.d 12 Des 2016OlahragaKhoirotul Ayun, Tiara Sri Dewi, Zulfa Tania1 Beregu Sabel PutriProvinsi
 14 Cerita Pendek Remaja (Ceris) dan KIR Islami Kemenag Pusat14 Des 2016Seni/akademik (bahasa Indonesia)Amanda Safa’a Lebriana2 CerisNasional
 15Independen Film Surabaya16 Desember 2016Seni PeranM Rizaq Salsabilah, Mahisa Kampala, Elmawati, Ipung Yunita, Desak Ayu.Juara Favorit Sosial mediaKota
 16Akademi Farmasi Ketintang Surabaya Cerdas Cermat Farmasi21 Jan. 2017Akademik
Fahriza Novianti, Ipung Yunita, Khoirunnisa
Alfi Nur Diana, Berlianda Rahma S, Soleha Noer amalia
3 cerdas cermat

Harapan 2 cerdas cermat
Provinsi
 17 Akademi Farmasi Ketintang Surabaya LKTI Farmasi28 Januari 2017Akademik (Penelitian)
 Siti Mutmainah
Soleha Noer Amalia
Ervyana Herawati
Berlianda Rahma Salsabillah
Via Qurrota Ayun
Vivi Indarwati
Khoirunnisa Maharani
Khofifah Tata Gunawan
M. Rizaq Salsabillah
Dewi Lestari

MATERI ILMU RESEP

Ilmu Farmasi : Istilah resep, bahasa latin resep obat, daftar Istilah singkatan Latin Resep obat, beserta artinya, bahasa resep merupakan bahasa penulisan resep, menggunakan singkatan bahasa latin. Bahasa latin digunakan sebagai bahasa resep karna bahasa latin merupakan bahasa yang tidak berkembang, alias statis, sehingga makna bahasanya tidak berubah oleh waktu, baku dan kaku, sehingga bisa digunakan menjadi bahasa standar dalam resep secara global.

Hasil gambar untuk gambar paket ilmu resep

Jenis Sediaan Obat Berdasarkan Kosistensinya
Sediaan padat
1.       Serbuk (Pulvis dan Pulveres)
Pulvis adalah serbuk tak terbagi,
sedangkan pulveres adalah serbuk yang terbagi, dengan kata lain serbuk tersebut dibagi dalam bobot yang kurang lebih sama dibungkus dengan kertas perkamen atau yang sesuai dengan jenis serbuk, jadi satu bungkus sudah sesuai dengan dosisnya untuk satu kali pemakaian.
2.       Pil
Adalah sediaan berupa massa bunda yang mengandung 1 atau lebih bahan obat yang digunakan untuk obat dalam dan beratnya kira-kira 50-300 mg
3.       Granula
Adalah pil kecil biasanya berwarna putih atau merah karmin, berat kira-kira 30 mg
4.       Kapsul
Pengertian menurut FI III, kapsul adalah bentuk sediaan obat yang terbungkus cangkang kapsul yang keras atau lunak. Sedangkan pengertian kapsul menurut FI IV, kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut.
5.       Mikrokapsul
Merupakan partikel berukuran kecil yang mengandung zat aktif atau zat inti yang dilapisi oleh coating atau shell. Sekarang ini belum ada patokan tertentu untuk ukuran partikel dari mikrokapsul
6.      Suppositoria
Merupakan bentuk sediaan padat yang dibentuk sesuai dengan pemakaiannya, yaitu dimasukkan melalui rektum, vagina, dan uretra. Suppositoria yang dimasukkan ke dalam vagina disebut ovula, yang dimasukkan ke dalam rektum disebut analia, sedangkan yang dimasukkan ke dalam uretra disebut suppositoria urethal.
7.       Tablet
Adalah sediaan bentuk padat yang mengandung substansi obat dengan atau tanpa bahan pengisi.

Sediaan setengah padat
1.       Salep
Adalah sediaan setengah padat ditujukan untuk pemakaian topikal pada kulit atau selaput lendir.
Memiliki konsistensi lebih padat dibandingkan dengan krim (kekentalan), tersedia dalam bentuk suspensi dan emulsi
2.       Krim
Memiliki konsistensi lebih encer dibandingkan dengan salep, hanya tersedia dalam bentuk emulsi
3.       Emulsi
Merupakan sistem semipadat terdiri dari suspensi yang dibuat dari partikel anorganik yang kecil atau molekul organik yang besar, terpenetrasi oleh suatu cairan.
4.       Pasta
Memiliki konsistensi kekentalan lebih besar dibandingkan salep, daya absorpsinya lebih besar dan kurang berlemak daripada salep. pasta digunakan untuk pemakaian topikal.
Sediaan cair
1.       Larutan
2.       Suspensi
3.       Emulsi
4.       Eliksir
Eliksir adalah sediaan berupa larutan yang mempunyai rasa. Mengandung selain obat atau zat tambahan seperti,gula atau zat pemanis lainnya, zat pengawet, zat warna, dan zat pewangi.  Digunakan sebagai obat dalam

MATERI PELAYANAN OBAT & RESEP

Pelayanan Obat dan Resep di Apotek

Ilmu Farmasi : tata cara pelayanan obat dan resep, pelayanan 
pembelian obat tunai, kredit dsb
a.       Penjualan obat
1.Penjualan obat tunai : Penjualan obat tunai meliputi:
a)      Penjualan obat resep tunai
Penjualan obat dengan resep tunai dilakukan terhadap pasien yang langsung datang ke apotek untuk menebus obat yang dibutuhkan dan dibayar secara tunai adalah sebagai berikut :
1)      Kasir atau petugas lain pada bagian penerimaan resep menerima resep dari pasien, lalu memeriksa kelengkapan dan keabsahan resep tersebut.
2)      Asisten apoteker akan memeriksa ada atau tidaknya obat dalam persediaan. Bila obat yang dibutuhkan tersedia, kemudian dilakukan pemberian harga dan memberitahukannya kepada pasien. Setelah pasien setuju segera dilakukan pembayaran atas obat pada bagian kasir. Alamat dan nomor telepon pasien dicatat. Bila obat hanya diambil sebagian maka petugas membuat salinan resep untuk pengambilan sisanya. Bagi pasien yang memerlukan kuitansi maka dapat pula dibuatkan kuitansi.
3)      Resep diberi nomor urut resep, selanjutnya nomor resep tersebut diserahkan ke pasien untuk mengambil obat pada bagian penyerahan obat.
4)      Resep asli diserahkan ke bagian peracikan atau penyiapan obat. Asisten Apoteker pada bagian peracikan atau penyiapan obat akan meracik atau menyiapkan obat sesuai dengan resep.
5)       Setelah obat selesai disiapkan maka obat diberi etiket dan dikemas.
6)      Sebelum obat diberikan dilakukan pemeriksaan kembali meliputi nomor resep, nama pasien, kebenaran obat, jumlah dan etiketnya. Juga dilakukan pemeriksaan salinan resep sesuai resep aslinya serta kebenaran kuitansi.
7)      Obat diserahkan kepada pasien sesuai dengan nomor resep lalu pasien diberi informasi tentang cara pemakaian obat dan informasi lain yang diperlukan pasien.
8)      Lembaran resep asli dikumpulkan menurut nomor urut dan tanggal resep dan disimpan sekurang-kurangnya tiga tahun.
Pada setiap tahapannya, petugas apotek wajib membubuhkan paraf atas apa saja yang dikerjakan pada resep tersebut, jika terjadi sesuatu dapat dipertanggung jawabkan atas pekerjaan yang dilakukan.
b)      Penjualan bebas
Penjualan bebas yang dimaksud adalah penjualan obat dan perbekalan farmasi lainya yang dapat dibeli tanpa resep dari dokter seperti obat OTC (over the counter) baik obat bebas maupun bebas terbatas. Pelayanan penjualan obat dan alat kesehatan yang di jual bebas dicounter swalayan farmasi termasuk kosmetika, dilakukan terhadap pasien yang memerlukan obat dan alat kesehatan tanpa resep dari dokter. Pada pelayanan obat OTC  pembayarannya di lakukan secara tunai.
Prosedur penjualan bebas yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1)      Petugas membantu pasien dalam mencari barang di swalayan farmasi sesuai kebutuhan dan menginformasikan harga barang tersebut sesuai dengan harga yang tertera di KIS .
2)      Pembayaran dilakukan setelah petugas memasukkan nama dan jumlah barang yang dientry dikomputer setelah disetujui pasien, serta membuat bukti penyerahan nota penjualan bebas.
3)      Barang beserta bukti pembayaran penjualan bebas diserahkan kepada pembeli. Bukti penjualan obat bebas dikumpulkan dan diurutkan berdasarkan nomor dan dicatat di laporan penjualan harian.
c)      Pelayanan UPDS (Upaya Pengobatan Diri Sendiri)
Pelayanan UPDS juga cukup banyak di Apotek. Pasien datang dengan keluhan. Apoteker atau Asisten Apotekerkemudian membantu pasien memilih obat-obatan yang sesuai. Peran Apoteker dalam UPDS ialah dapat memberi rekomendasi dan informasi yang tepat sesuai keluhan pasien.
2.   Penjualan obat dengan resep kredit
Resep kredit adalah resep yang ditulis dokter yang bertugas pada suatu instansi atau perusahaan untuk pasien dari instansi yang telah mengadakan kerja sama dengan apotek yang sering disebut Ikatan Kerja Sama (IKS), pembayaran dilakukan dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian yang telah disepakati bersama. Apotek bekerja sama dengan beberapa instalasi seperti Askes, PT. Jamsostek,PLNPerbedaan utama antara pelayanan resep tunai dengan kredit ialah pada pelayanan resep kredit, setelah resep diperiksa keabsahan dan kelengkapan resep, tidak dilakukan penetapan harga tetapi langsung diberi nomor urut dan obat disiapkan sementara pembayarannya tidak dilakukan pasien tetapi dibayarkan oleh instansi yang bekerja sama dengan apotek pada jangka waktu yang ditetapkan secara tertulis dalam Ikatan Kerja Sama. Untuk pelayanan resep kredit, setiap transaksi akan didata dan direkap untuk diklaim setiap bulannya kepada instalasi yang bersangkutan. Pada pelayanan resep kredit, harga obat disepakati oleh kedua belah pihak, yaitu dari apotek dan instansi yang memberikan jaminan kesehatan. Selain itu, produk obat dan jumlah yang diberikan ditentukan oleh instansi tersebut.

MATERI FARMAKONOSI

Pengertian Farmakognosi

Kata Farmakognosi berasal dari dua perkataan Yunani yaitu Pharmakon yang berarti obat dan gnosis yang berarti ilmu atau pengetahuan.
Jadi farmakognosi berarti pengetahuan tentang obat, di Indonesia farmakognosi dikhususkan ilmu yang mempelajari tentang obat dari bahan nabati, hewani dan mineral.
https://d2kl9mvmw5l7p9.cloudfront.net/amsmedika-upload/produk/20140512-163259.jpg
Farmakognosi merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang bagian-bagian tanaman atau hewan yang dapat digunakan sebagai obat alami yang telah melewati berbagai macam uji seperti uji farmakodinamik, uji toksikologi dan uji biofarmasetika.
Farmakognosi adalah sebagai bagian biofarmasi, biokimia dan kimia sintesa, sehingga ruang lingkupnya menjadi luas seperti yang diuraikan dalam definisi Fluckiger. Sedangkan di Indonesia saat ini untuk praktikum Farmakognosi hanya meliputi segi pengamatan makroskopis, mikroskopis dan organoleptis yang seharusnya juga mencakup indentifikasi, isolasi dan pemurnian setiap zat yang terkandung dalam simplisia dan bila perlu penyelidikan dilanjutkan ke arah sintesa. Sebagai contoh Chloramphenicol dapat dibuat secara sintesa total, yang sebelumnya hanya dapat diperoleh dari biakkan cendawan Streptomyces venezuela.
Alam memberikan kepada kita bahan alam darat dan laut berupa tumbuhan, hewan dan mineral yang jika diadakan identifikasi dan menentukan sistematikanya, maka diperoleh bahan alam berkhasiat obat. Jika bahan alam yang berkhasiat obat ini dikoleksi, dikeringkan, diolah, diawetkan dan disimpan, akan diperoleh bahan yang siap pakai atau yang disebut dengan simplisia, disinilah keterkaitannya dengan farmakognosi.
Beberapa istilah dalam pelajaran farmakognosi antara lain:
Simplisia : adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun juga, kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan.
Simplisia nabati : adalah simplisia berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman.
Eksudat tanaman : Adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia murni.
Simplisia hewani : adalah simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat yang berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
Simplisia mineral : adalah simplisia yang berupa mineral (pelikan) yang belum diolah atau dioleh dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.
Alkaloida : adalah suatu basa organik yang mengandung unsur Nitrogen (N) pada umumnya berasal dari tanaman , yang mempunyai efek fisiologis kuat/keras terhadap manusia.
Glikosida : adalah suatu zat yang oleh enzim tertentu akan terurai menjadi satu macam gula serta satu atau lebih bukan zat gula. Contohnya amigdalin, oleh enzim emulsin akan terurai menjadi glukosa + benzaldehida + asam sianida.
Enzim : Adalah suatu biokatalisator yaitu senyawa atau zat yang berfungsi mempercepat reaksi biokimia / metabolisme dalam tubuh organisme.
Vitamin : adalah suatu zat yang dalam jumlah sedikit sekali diperlukan oleh tubuh manusia untuk membentuk metabolisme tubuh. Tubuh manusia sendiri tidak dapat memproduksi vitamin.
Hormon : adalah suatu zat yang dikeluarkan oleh kelenjar endokrin yang mampengaruhi faal, tubuh dan mempengaruhi besar bentuk tubuh.
Pemerian : Adalah uraian tentang bentuk, bau, rasa, warna simplisia, jadi merupakan informasi yang diperlukan pada pengamatan terhadap simplisia nabati yang berupa bagian tanaman (kulit, daun, akar, dan sebagainya)

MATERI FARMAKOLOGI

                                             FARMAKOLOGI
Hasil gambar untuk gambar paket farmakologi
Farmakologi (pharmacology) berasal dari bahasa Yunani, yaitu pharmacon adalah obat dan logos adalah ilmu. Obat adalah setiap zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup pada tingkat molekular. Farmakologi sendiri dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari interaksi obat dengan konstituen (unsur pokok) tubuh untuk menghasilkan efek terapi (therapeutic).
            Banyak definisi tentang farmakologi yang dirumuskan oleh para ahli, antara lain: Farmakologi dapat dirumuskan sebagai kajian terhadap bahan-bahan yang berinteraksi dengan sistem kehidupan melalui proses kimia, khususnya melalui pengikatan molekul-molekul regulator yang mengaktifkan atau menghambat proses-proses tubuh yang normal (Betran G. Katzung). Ilmu yang mempelajari mengenai obat, mencakup sejarah, sumber, sifat kimia dan fisik, komponen, efek fisiologi dan biokimia, mekanisme kerja, absorpsi, distribusi, biotransformasi, ekskresi dan penggunaan obat (Farmakologi dan Terapi UI). Dengan demikian, farmakologi merupakan ilmu pengetahuan yang sangat luas cakupannya. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, beberapa bagian dari farmakologi ini telah berkembang menjadi disiplin ilmu tersendiri dalam ruang lingkup yang lebih sempit, tetapi tidak terlepas sama sekali dari farmakologi, misalnya farmakologi klinik, farmasi, toksikologi, dan lain-lain.
Umumnya, para ahli farmakologi menggabungkan antara farmakologi kedokteran atau farmakologi medis (ilmu yang berkaitan dengan diagnosis, pencegahan, dan pengobatan penyakit) dengan toksikologi (ilmu yang mempelajari efek-efek yang tidak diinginkan dari suatu obat dan zat kimia lain).
Klasifikasi Farmakologi:
1.      Farmakognosi
Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari sifat-sifat tumbuhan dan bahan lain yang merupakan sumber obat.
2.      Farmakokinetik
Cabang Ilmu farmakologi yang mempelajari perjalanan obat dalam tubuh
3.      Farmakodinamik
Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari tentang efek obat terhadap fisiologi dan biokimia dari sel jaringan/organ tubuh beserta mekanisme kerjanya
(fisiologis)
4.      Farmakologiklinik
Cabang ilmu farmakologi yang mempelajari efek obat pada manusia
(morfologi)
5.      Farmakoterapi
Cabang ilmu farmakologi yang berhubungan dengan penggunaan obat dalam pencegahan dan pengobatan penyakit
6.      Toksikologi
Ilmu yang mempelajari keracunan zat kimia. Zat kimia yang dimaksud tersebut termasuk obat atau zat yg digunakan dalam rumah tangga, industri, maupun lingkungan hidup lain (contoh: insektisida, pestisida, zat pengawet, dll)
7.      Farmakoekonomi
Cabang ilmu yang khusus mempelajari hubungan antara obat dan nilai ekonomis yg dapat dihasilkan oleh obat tersebut
Hubungan antara dosis suatu obat yang diberikan pada seorang pasien dan penggunaan obat dalam pengobatan penyakit digambarkan dengan dua bidang khusus farmakologi yaitu: farmakokinetik dan farmakodinamik. Farmakodinamik mempelajari apa pengaruh obat pada tubuh. Farmakodinamik berkaitan dengan efek-efek obat, bagaimana mekanisme kerjanya dan organ-organ apa yang dipengaruhi. Farmakokinetik mempelajari proses apa yang dialami obat dalam tubuh. Farmakokinetik berkaitan dengan absorpsi, distribusi, biotransformasi, dan ekskresi obat-obat. Faktor-faktor ini dirangkaikan dengan dosis, penentuan konsentrasi suatu obat pada tempat kerjanya, dan penentuan intensitas efek obat sebagai fungsi dari waktu paruh. Banyak prinsip biokimia, enzimologi, fisik, dan kimia yang menentukan transfer aktif dan pasif, serta distribusi zat melewati membran-membran biologi yang dapat dipakai untuk dapat mengerti aspek penting dalam farmakoogi. Farmakodinamik berkaitan dengan efek-efek biokimia, fisiologi, dan mekanisme kerja obat-obatan. Farmakodinamik dan farmakokinetik akan dijelaskan sebagai berikut:
1.        Farmakodinamik
Farmakodinamik adalah subdisiplin farmakologi yang mempelajari efek biokimiawi dan fisiologi obat, serta mekanisme kerjanya. Tujuan mempelajari farmakodinamik adalah untuk meneliti efek utama obat, mengetahui interaksi obat dengan sel, dan mengetahui urutan peristiwa serta spektrum efek dan respons yang terjadi.
a.       Mekanisme Kerja Obat
kebanyakan obat menimbulkan efek melalui interaksi dengan reseptornya pada sel organism. Interaksi obat dengan reseptornya dapat menimbulkan perubahan dan biokimiawi yang merupakan respon khas dari obat tersebut. Obat yang efeknya menyerupai senyawa endogen disebut agonis, obat yang tidak mempunyai aktifitas intrinsik sehingga menimbulkan efek dengan menghambat kerja suatu agonis disebut antagonis. 
b.      Reseptor Obat
Protein merupakan reseptor obat yang paling penting. Asam nukleat juga dapat merupakan reseptor obat yang penting, misalnya untuk sitotastik. Ikatan obat-reseptor dapat berupa ikatan ion, hydrogen, hidrofobik, vanderwalls, atau kovalen. Perubahan kecil dalam molekul obat, misalnya perubahan stereoisomer dapat menimbulkan perubahan besar dalam sifat farmakologinya.
c.       Transmisi Sinyal Biologis
Penghantaran sinyal biologis adalah proses yang menyebabkan suatu substansi ekstraseluler yang menimbulkan respon seluler fisiologis yang spesifik. Reseptor yang terdapat di permukaan sel terdiri atas reseptor dalam bentuk enzim. Reseptor tidak hanya berfungsi dalam pengaturan fisiologis dan biokimia, tetapi juga diatur atau dipengaruhi oleh mekanisme homeostatic lain. Bila suatu sel di rangsang oleh agonisnya secara terus-menerus maka akan terjadi desentisasi yang menyebabkan efek perangsangan.
d.      Interaksi Obat-Reseptor
Ikatan antara obat dengan resptor biasanya terdiri dari berbagai ikatan lemah (ikatan ion, hydrogen, hidrofilik), mirip ikatan antara subtract dengan enzim dan jarang terjadi ikatan kovalen.
2.        Farmakokinetik
Farmakokinetik mencakup 4 proses, yaitu proses absorpsi distribusi metabolisme dan ekskresi. Metabolisme atau biotransformasi dan ekskresi bentuk utuh atau bentuk aktif merupakan proses eliminasi obat
a.       Absorpsi
Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah. Bergantung pada cara pemberiannya, tempat pemberian obat adalah saluran cerna (mulut sampai rektum), kulit, paru, otot, dan lain-lain. Yang terpenting adalah cara pemberian obat per oral, dengan cara ini tempat absorpsi utama adalah usus halus karena memiliki permukaan absorpsi yang sangat luas, yakni 200 meter persegi (panjang 280 cm, diameter 4 cm, disertai dengan vili dan mikrovili ). Obat yang diserap oleh usus halus ditransport ke hepar sebelum beredar ke seluruh tubuh. Hepar memetabolisme banyak obat sebelum masuk ke sirkulasi. Hal ini yang disebut dengan efek first-pass. Metabolisme hepar dapat menyebabkan obat menjadi inaktif sehingga menurunkan jumlah obat yang sampai ke sirkulasi sistemik, jadi dosis obat yang diberikan harus banyak.
b.      Distribusi
Distribusi obat adalah proses obat dihantarkan dari sirkulasi sistemik ke jaringan dan cairan tubuh, meliputi: aliran darah, permiabilitas kapiler, dan ikatan kovalen.
c.       Metabolisme
Metabolisme atau biotransformasi obat adalah proses tubuh merubah komposisi obat sehingga menjadi lebih larut air untuk dapat dibuang keluar tubuh. Obat dapat dimetabolisme melalui beberapa cara yaitu: metabolisme inaktif kemudian diekskresikan dan metabolisme aktif yang memiliki kerja farmakologi tersendiri dan dimetabolisme lanjutan
d.      Ekskresi
Ekskresi obat artinya eliminasi obat dari tubuh. Sebagian besar obat dibuang dari tubuh oleh ginjal dan melalui urin. Obat jugadapat dibuang melalui paru-paru, eksokrin (keringat, ludah, payudara), kulit dan taraktusintestinal.
e.       Hal-hal lain terkait Farmakokinetik, meliputi:  
Waktu Paruh
Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan sehingga setengah dari obat dibuang dari tubuh. Faktor yang mempengaruhi waktu paruh adalah absorpsi, metabolism dan ekskresi. Waktu paruh penting diketahui untuk menetapkan berapa sering obat harus diberikan.
Onset, puncak, and durasi
Onset adalah waktu dari saat obat diberikan hingga obat terasa kerjanya. Sangat tergantung rute pemberian dan farmakokinetik obat. Puncak adalah setelah tubuh menyerap semakin banyak obat maka konsentrasinya di dalam tubuh semakin meningkat. Durasi adalah kerja lama obat menghasilkan suatu efek terapi.
2.2   Sejarah Farmakologi
Sejarah farmakologi dibagi menjadi 2 periode yaitu periode kuno dan periode modern. Periode kuno (sebelum tahun 1700) ditandai dengan observasi empirik penggunaan obat dapat dilihat di Materia Medika. Catatan tertua dijumpai pada pengobatan Cina dan Mesir. Claudius Galen (129–200 A.D.), orang pertama yg mengenalkan bahwa teori dan pengalaman empirik berkontribusi seimbang dalam penggunaan obat.  Theophrastus von Hohenheim (1493–1541 A.D.), atau Paracelsus: All things are poison, nothing is without poison; the dose alone causes a thing not to be poison.”  Johann Jakob Wepfer (1620–1695) the first to verify by animal experimentation assertions about pharmacological or toxicological actions.
Periode modern dimulai Pada abad 18-19, mulai dilakukan penelitian eksperimental tentang perkembangan obat, tempat dan cara kerja obat, pada tingkat organ dan jaringan. Rudolf Buchheim (1820–1879) mendirikan the first institute of Pharmacology di the University of Dorpat (Tartu, Estonia) in 1847 pharmacology as an independent scientific discipline. Oswald Schmiedeberg (1838–1921), bersama seorang internist, Bernhard Naunyn (1839–1925), menerbitkan jurnal farmakologi pertama. John J. Abel (1857–1938) “The Father of American Pharmacology”, was among the first Americans to train in Schmiedeberg‘s laboratory and was founder of the Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics (published from 1909 until the present).
Regulasi obat bertujuan menjamin hanya obat yang efektif dan aman, yang tersedia di pasaran. Tahun 1937 lebih dari 100 orang meninggal karena gagal ginjal akibat eliksir sulfanilamid yang dilarutkan dalam etilenglikol. Kejadian ini memicu diwajibkannya melakukan  uji toksisitas praklinis untuk pertama kali. Selain itu industri diwajibkan melaporkan data klinis tentang keamanan obat sebelum dipasarkan. Tahun 1950-an, ditemukan kloramfenikol dapat menyebabkan anemia aplastis. Tahun 1952 pertama kali diterbitkan buku tentang efek samping obat. Tahun 1960 dimulai program MESO (Monitoring Efek Samping Obat). Tahun 1961, bencana thalidomid, hipnotik lemah tanpa efek samping dibandingkan golongannya, namun ternyata menyebabkan cacat janin. Studi epidemiologi di Utero memastikan penyebabnya adalah thalidomid, sehingga dinyatakan thalidomid ditarik dari peredaran karena bersifat teratogen.
Tahun 1962, diperketat harus dilakukannya uji toksikologi sebelum diuji pada manusia. Setelah itu (tahun 1970-an hingga 1990an) mulai banyak dilaporkan kasus efek samping obat yang sudah lama beredar. Tahun 1970-an Klioquinol dilaporkan menyebabkan neuropati subakut mielo-optik. Efek samping ini baru diketahui setelah 40 tahun digunakan. Dietilstilbestrol diketahui menyebabkan adenocarcinoma serviks (setelah 20 tahun digunakan secara luas). Selain itu masih banyak lagi penemuan ESO (Efek Samping Obat) yang menyebabkan pencabutan ijin edar atau pembatasan pemakaian. Berbagai kejadian ESO yang dilaporkan memicu pencarian metode baru untuk studi ESO pada sejumlah besar pasien. Hal ini memicu pergeseran dari studi efek samping ke studi kejadian ESO. Tahun 1990an dimulai penggunaan Farmakoepidemiologi untuk mempelajari efek obat yang menguntungkan, aplikasi ekonomi kesehatan untuk studi efek obat, studi kualitas hidup, dan lain-lain. Studi Farmakoepidemiologi semakin bekembang, dan pada tahun 1996 dikeluarkanlah Guidelines for Good Epidemiology Practices for Drug, Device, and Vaccine Research di USA